Tips Menulis Rifka Rizkiana #3 : Menulis Itu Asyik


Menulis Itu Asyik
Oleh: Niken TF Alimah, Sp

(Disampaikan pada Seminar Online Nasional alkahfi.id. 14 Desember 2019)

Bismillah,

Assalaamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwasanya tida ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, aku bersaksi bahwanya Nabi Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur'an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (As-Sunnah). 

Senang sekali bisa berjumpa antunna dalam Seminar Online alkahfi.id ini, MasyaAllah. Semoga peretmuan kali ini dapat menjadi pertemuan yang bermanfaat dan menambah timbangan kebaikan bagi kita semua. Aamiin ...

Berbicara tentang "Menulis Itu Asyik" otomatis membuat saya teringat tentang bagaimana saya berkenalan dengan dunia menulis, jauh saat saya duduk di bangku sekolah dasar. Tentu saat itu belum ada yang namanya media sosial seperti saat ini. Namun bukan berarti apa-apa yang saya sampaikan tidak bisa berlaku dalam menulis di medai sosial agar menjadi sesuatu yang asyik dan bermanfaat. InsyaAllah bisa diterapkan juga di media sosial, namun saya akan lebih fokuskan kepada menulis asyik yang bisa diterbitkan oleh penerbit agar bisa padu dengan materi sesi ketiga bersama Bapak Ali Faiz hafidzahullah nanti. Jika antunna berstatus mahasiswa, saya harap materi ini juga bisa membantu antunna menyelsaikan tugas akhir dengan asyik, karena menulis itu asyik.

Berawal dari keingintahuan menggunakan mesin ketik jadul, saya mulai menyalin beberapa tulisan mengenai biografi tokoh terkenal di majalah dengan mesin ketik itu. Jangan bayangkan ketikan anak kelas dua SD yang rapi dan selesai dalam waktu cepat. Butuh waktu beberapa hari untuk sekadar menyalin satu artikel pendek. Terlebih, saya mengetik dengan satu jari telunjuk dan menekan tuts mesin ketik. Benar-benar saat ini saya heran dengan kesabaran orang di rumah saya dulu dalam mendengar suara mesin ketik yang sedang saya pakai, MasyaAllah.

Proses menyalin artikel tersebut tanpa saya sadari membuat saya terbiasa dengan mencari buku atau majalah untuk dibaca, sebelum saya mulai mengetik. Begitu juga saya menganggap suatu biografi adalah menarik, maka selesai membacanya bisa dipastikan langsung saya ketik. Seiring dengan waktu, kualitas ketikan saya juga membaik dan pada satu titik saya memutuskan untuk menjilid ketikan saya menjadi satu jilid kumpulan artikel biografi hasil ketikan saya.

Kelas empat SD saya sudah terbiasa dengan kegiatan mengirim karya berupa puisi ke Koran Kecil milik surat kabar Republika. Saya sudah tidak lagi menyalin artikel, namun sudah bergerak ke menuis sendiri ide yang muncul di kepala. Menulis menjadi sesuatu yang asyik bagi saya saat itu karena membaca sudah menjadi kebiasaan. Bacaan-bacaan tersebut telah memberikan bagaimana kalimat yang baik, pilihan kata yang digunakan, dan sebagainya. Biidznillah beberapa kali dimuat juga dan saya benar-benar merasakan mendapatkan sesuatu dari kegiatan menulis, seperti merchandise Koran Kecil bahkan wesel. Jadul banget ya, zaman itu hanya ada teknologi wesel sebagai pengiriman uang jarak jauh.

Membaca, membaca, dan membaca. Keasyikan menulis sulit untuk diawali dengan keasyikan membaca. Apakah antunna pernah memperhatikan, kenapa istilah yang akrab kita dengan adalah baca-tulis dan bukannya tulis-baca?

"Bacalah ..." (QS. Al-Alaq:1)

Semakin kita terbiasa membaca, maka kita tidak akan lagi sekadar membaca tulisan yang ada di buku, nemun juga membaca lingkungan sekitar kita, suasana, maupun segala hal yang ada dalam keseharian.Alam terbentang menjadi guru yang mengajarkan kita banyak hal untuk bisa kita tuliskan. Inspirasi akan melimpah ruah dan keasyikan menulis benar-benar kita rasakan.

Ya, itulah yang saya lakukan. Saya selalu mencoba menulis dengan berangkat dari apa yang terdekat dari saya. Saat saya kecil dulu, puisi-puisi saya memotret tentang kepedulian sosial kepada dhuafa. Saat saya SMA, artikel yang dimuat di koran Suara Merdeka lebih ke memahami perubahan emosi pada remaja. Bahkan saat saya menulis Ensiklopedi Clodi pun juga berangkat dari pengalaman saya menjadi ibu yang sempat dipusingkan dengan masalah popok anak saya. Inspirasi terkadang seperti gajah di pelupukan mata tak kelihatan karena kita berpikir kuman di seberang lautan yang (harus) kelihatan. Betul atau betul sekali?

Alhamdulillah di sesi yang pertama tadi, Ustadz Khoirul Huda hafidzahullah sudah menyampaikan tentang "Menggapai Surga dengan Menulis." Memahami Do and Don't, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh ditulis, sungguh merupakan dasar bagaimana menulis itu bisa menjadi asyik. Ibarat pengendara motor, kita bisa nyaman berkendara ketika kita tahu apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan di jalan raya.Aturan yang sama pun berlaku di dunia menulis. Maka, akhwat, pegang erat-erat apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan agar tulisan kita menjadi pemberat amalan kita di yaumul akhirat kelak.

Saat landasan rambu-rambu sudah kita pahami dan menangkap inspirasi sudah kita kuasai, maka langkah selanjutnya adalah mulai menulis. CUSS!!!

1. Catat Apa Adanya Inspirasi yang Muncul

Jangan pedulikan tata bahasa, penilaian bagus tidak, atau kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul. Catat dulu saja. Kalau perlu, kantongi buku notes kecil dan pulpen setiap saat untuk menyimpan ide yang muncul tanpa melihat waktu.

2. Urutan Menjadi Puzzle yang Indah!

Ibarat puzzle, bayangkan dulu hasil akhir yang kita inginkan dan mulailah menyusun kepingan ide menjadi sebuah kesatuan yang indah. Ini adalah tahapan yang paling menguras otak karena kekayaan kosakata kita, kemampuan menyusun kalimat, maupun konsistensi kita dalam memadukan satu ide dengan ide lainnya benar-benar diuji di sini. Metode 5W 1H (what, when, where, who, why, how) bisa jadi aalat bantu dalam menyusun kepingan ide kita.

3. Ssst ... Rapikan dulu!

Pada titik ini, pengetahuan kita akan ejaan, penggunaan tanda baca, menyusun tampilan agar rapi dan enak dibaca akan diuji. Pada dunia penulis profesional, ini adalah peran seorang editor. Ada orang yang bertugas khusus mengerjakan hal tersebut. Namun, bagaimana dengan penulis pemula?

Tentu sedikit banyak, penulis pemula juga perlu menguasai keterampilan ini karena tampilan tulisan yang enak dibaca akan menjadi nilai plus tersendiri bagi penerbit saat membaca tulisan kita.

4. Show time!

Tahap ini adalah menunjukkan hasil tulisan kita kepada orang yang bisa kita ajak diskusi tentang tulisan kita. Kita butuh masukan, saran, dan bertukar pikiran apakah tulisan kita oke atau belum. Bahkan jika bisa, kita dapatkan mentor untuk meninjau tulisan kita.

Namun, tidak semua dari kita beruntung menemukan teman atau mentor yang bisa kita ajak berdiskusi tentang tulisan kita. Atau, kita kurang pede menunjukkan ke teman. Atau bahkan, kita khawatir orang lain yang kita ajak diskusi akan mencuri ide kita. Maka, tahap ketiga di atas benar-benar harus dikuatkan agar kita benar-benar yakin atas kualitas tulisan kita dan mantapkan untuk langsung show time ke penerbit atau media atau bahkan dosen pembimbing.

Tahap ini benar-benar uji nyali bagi seorang penulis karena kita akan dihadapkan pada hasil: diterima atau ditolak. Nah, seberapa siap untuk sampai tahap ini?

Baik, mungkin itu dulu yang saya sampaikan, InsyaAllah kita bisa diskusi lebih jauh ke dalam sesi tanya jawab. Jazakumullahu Khairan. Wassalaamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh ...

Sumber Gambar : Medium.com