hQimDs9Vv8MwYJ0SXAYARQrMvIosvgLCnmk1Hi5k

Cari Blog Ini

Tips Menulis Rifka Rizkiana #6 : Adab Berilmu dengan Tulisan



Adab Berilmu dengan Tulisan
Oleh: Ustadz. Khoirul Huda, M.Pd
(Disampaikan pada Seminar Online Nasional alkhafi.id 14 Desember 2019)

Ilmu agama merupakan warisan berharga para Nabi. Jadi untuk mendapatkan warisan tersebut banyak hal yang harus dipenuhi. Masih berkaitan dengan tulisan, apa yang semestinya diperhatikan seorang pemburu warisan para Nabi tersebut? Tentu adab berburu ilmu melalui tulisan tidak jauh berbeda dengan adab menuntut ilmu secara umum yang mesti harus selalu kita jaga dan perhatikan. Apakah itu?

1. Mengikhlaskan Niat

Menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah kepada Allah, maka sangat berhajat pada niat yang ikhlas semata hanya untuk Allah.Bukan karena ingin menjadi penulis yang terkenal dan dibanggakan banyak orang, bukan karena ingin dipuji karena kepiawainnya dalam menyampaikan ilmu lewat tulisan dan sederet ambisi dunia.

Baca Juga : Definisi dan Jenis Bencana Menuntut Ilmu dalam Islam, Kok Bisa?

Niat ikhlas ini dimulai semenjak awal mengambil ilmu dari seorang guru dalam halaqoh ilmunya hingga mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Niat ikhlas mesti harus dijaga dengan penuh kesungguhan, karena dalam kesungguhan niat, Allah akan meberikan kemudahan dalam menuntut ilmu itu. Allah menyatakan dalam firman-Nya,

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut: 69)

Sebagian ahli ilmu menyatakan, “Sesungguhnya menuntut ilmu terkadang akan dijumpai rasa berat dan sulit untuk menegakkan niat, namun di dalamnya terdapat pahala jika dia mampu mengerahkan energinya untuk meluruskan niat ini.Karena niat merupakan perkara yang sangat agung.Dan jika para salaf kita begitu keras menghindarkan diri dari keburukan niat yang menghinggapinya berupa riya dan kepopuleran, maka bagaimana dengan kondisi kita dibanding dengan kondisi mereka?”  (Maalim fii Thoriiqi tholib Al Ilmi, Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdurrohman As Sadhan, hal. 55)

Semoga Allah selalu melimpahkan niat yang lurus dalam menggapai ilmu yang begitu mulia. Aamiin.

2. Bersemangat menghadiri majelis Ilmu

Semangat 45 dan terus menerus dalam mengadiri setiap majelis ilmu adalah kunci keberhasilan. Manakala seorang hamba berkobar semangatnya dan niatnya selalu benar, maka Allah akan membukakan keberkahan dan kemudahan untuknya dan akan memberikan pertolongan terhadap semua urusannya, termasuk dalam meraih ilmu.

Karenanya, mestinya kita jangan pernah menghitung seberapa banyak kita telah mendatangi halaqoh ilmu, karena kebodohan begitu banyak sedangkan ilmu yang kita miliki sangatlah minim.Para pendahulu kita telah banyak memberikan teladan kepada kita dalam poin ini.

Betapa indah perkataan Imam Ahmad bin Hambal yang menuturkan, “Sejatinya ilmu itu adalah anugrah dari Allah yang diberikan kepada hamba yang dicintai-Nya. Tidak ada seorang pun yang bisa meraihnya melalui garis keturunan. Seandainya ilmu itu didapat dari garis keturunan maka ahlu bait (keluarga Nabi) sangat layak untuk mendapatkannya.” (Maalim fii Thoriiqi tholib Al Ilmi, Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdurrohman As Sadhan, hal. 56)

Seorang ulama yang bernama Abu Al hasan Al Karokhiy mengisahkan semangat belajarnya dengan berkata, “Biasanya aku menghadiri majelis Abu Hazm pada hari Jumat semenjak pagi hari sebelum pelajaran dimulai, agar aku tidak terputus dari kebiasanku (hadir awal dalam majelis).” (Al Hatstsu ala tholab al ilmi, al askariy hal.78)

Begitulah semangat ulama kita dalam menghadiri majelis ilmu.Sangat dianjurkan belajar langsung dari guru di majelis ilmunya, bukan hanya sekadar membaca kitab atau tulisan dari website, blog, maupun lainnya.Bagaimana dengan semangat kita?

3. Sabar, Step By Step!

Dalam menuntut ilmu dibutuhkan kesabaran. Karena jika sabar hilang bisa jadi akan menyebabkan seseorang terputus dari menuntut ilmu. Terkadang kita jumpai orang yang begitu semangat dalam belajar, namun tiba-tiba  putus di tengah jalan. Why? Bisa jadi karena metode belajarnya yang tidak tepat.Mestinya mengambil ilmu dimulai dari dasar dan berjenjang ke tahap berikutnya, berangsur-angsur, tahap demi tahap hingga sampai puncaknya.

Menuntut ilmu bisa kita ibaratkan dengan sebuah tangga yang harus kita lalui gigi tangganya, kalau kita memaksakan diri loncat tangga, maka yang terjadi kita akan terhempas sebelum sampai puncaknya. Butuh waktu yang lama dong?!Tentu, karena diantara modal yang harus dimiliki seorang penuntut ilmu adalah thuulul zaman, butuh waktu lama, tidak instan.

Dengan bertahap dalam mengambil ilmu akan menjadikan seseorang makin kuat keilmuannya. Beda jika kita berupaya mengambil ilmu secara instan dan mengambil kuota ilmu yang banyak sekaligus, niscaya akan sebanyak itu pula yang bakal hilang. Karenanya para ulama kita sering memberi wejangan,

“Barangsiapa yang berusaha menguasai ilmu langsung dalam jumlah yang banyak, maka akan banyak pula ilmu yang hilang darinya.” (Hilyatu tholibil ilmi, Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid)

4. Skala Prioritas

Artinya ketika menuntut ilmu  kita harus memperhatikan manakah yang paling penting. Artinya kita hitung dengan skala prioritas mana dulu ilmu yang harus dipelajari.Karena waktu kita begitu mepet sedangkan ilmu yang dipelajari begitu banyak.

Maka dalam hal ini kita harus memulai dari dasar dan menguatkan dasarnya hingga menjadi bekal untuk  mempelajari ilmu lanjutannya. Memulai dari hal mendasar yang menjadi ushul/pokok akan memudahkan sesorang mempelajari ilmu turunan/cabangnya. Jika belum belum kita sudah mempelajari ilmu furu alias cabang maka kita akan kebingungan bahkan bisa putus ditengah jalan. 

Termasuk hal yang paling mendesak untuk kita pelajari adalah ilmu aqidah dan tauhid karena ilmu ini menjadi sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Kemudian juga ilmu yang membahas tentang perkara-perkara ibadah wajib maupun sunnah yang menjadi rutinitas harian dan hal-hal yang berkaitan langsung dengan muamalah kita dalam kehidupan sehari-hari. Minal aham tsummal aham.

5. Pantang Patah Arang

Faktor yang kerapkali menjadikan seorang penuntut ilmu gagal di tengah jalan adalah karena putus asa. Merasa belajar sudah begitu lama namun sedikit ilmu yang didapat! Sekian tahun duduk di majelis ilmu namun tidak paham-paham dengan ilmu yang diajarkan!

Ingatlah bahwa dengan terus mengulang pelajaran dan hadir di majelis ilmu berulangkali akan membantu pemahaman kita terhadap ilmu. Ilmu makin sering dibaca dan diulang maka akan hilang keruwetan dan kesulitannya. Makanya para ulama kita bisa lebih dari sepuluh kali dalam membaca sebuah kitab untuk mendapatkan pemahaman yang sempurna. Selevel imam Ahmad yang mulia dan mumpuni ilmunya pernah mengatakan, “Aku mempelajari kitab tentang haidh selama enam tahun hingga aku bisa memahaminya.” (Thobaqot Al Habilah 1/268)

Bila tidak paham maka mengulang dan banyak bertanya kepada guru dan teman jadi jalan keluar. Jangan sungkan dan angkuh untuk bertanya tentang ilmu, karena itu akan menghalangi ilmu kepada diri kita. Imam Mujahid pernah menyatakan, “Tidak akan berhasil orang yang mempelajari ilmu agama yaitu orang yang malu lagi sombong.”(Riwayat Al Bukhari dalam Kitab Al ilmu syarah fathul bari 1/26)

Bagi penuntut ilmu tidak ada kamus menyerah di jalan dalam mendapatkan  cahaya dari Allah. Muwaffiq?

6. Belajar langsung dengan Guru

Era digital dan online begitu memanjakan manusia untuk mendapatkan banyak pengetahuan dengan mudah dan instan. Pun dengan ilmu agama, satu klik kita langsung bisa mencari kebutuhan yang kita inginkan. Namun tahukah kita bahwa metode mengambil ilmu secara online, atau hanya berdasarkan baca kitab saja memiliki sisi negatif? Diantara nilai minusnya adalah butuh waktu yang lebih lama, ilmunya kurang kuat dan acapkali terjatuh dalam kesalahan karena terbatasnya pemahaman atau karena buku dan tulisan yang dibaca adalah suatu yang buruk dan menyesatkan.

Dalam kondisi semacam ini kita sangat butuh seorang guru yang akan membimbing dan mengarahkan kita. Dan tentu belajar langsung kepada guru yang terpercaya dan baik agamanya memiliki poin positif, diantaranya; mempercepat proses belajar kita, lebih mudah dan cepat dalam memahami permasalahan ilmu, dan adanya jalinan baik antara murid dan guru. (Faidah dari Kitaabul ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin]

Intinya belajar kepada guru langsung sangat diutamakan, apalagi belajar ilmu yang bersifat ushul apalagi menggunakan pengantar Bahasa Arab. Lebih selamat dan aman dari kesalahan insyaAllah ketimbang hanya mengandalkan media online dan tulisan!

7.Beradab Yang Baik dengan Guru

Diantara adab yang baik dari murid kepada guru adalah berkata yang sopan, tidak meutus pembicaraan guru, menghormatinya, tidak menjatuhkan kehormatannya, memuliakannya, tidak mendahuluinya dalam berpendapat, berterimakasih kepada gurunya dan segenap adab yang baik  harus kita terapkan kepada siapapun yang menjadi guru kita. 

Terkait dengan berbuat baik kepada guru terkait dengan tulisan adalah mencantumkan tulisan yang kita ambil dari sumbernya, baik berupa kitab maupun media lainnya.Menyajikan ucapan dan ilmu sesui dengan aslinya termasuk beradab yang baik kepada guru. Beradab yang baik kepada guru akan mendatangkan keberkahan dan menuntut ilmu.

Tentu masih banyak adab yang kudu kita perhatikan dalam menuntut ilmu. Uraian diatas hanya baru sebagian kecil dari adab yang mesti diperhatikan oleh setiap penuntut ilmu secara umum, dan secara khusus terkait dengan kepenulisan.

Berhati-hatilah!

Di sesi akhir tulisan ini akan kita uraikan sedikit tentang hal-hal yang mesti kita jauhi dalam menuntut ilmu. Apa sajakah itu?

1. Menuntut ilmu dengan niat dunia dan materi.
2. Menuntut ilmu dari guru dan sumber yang tidak terpercaya.
3. Berbantahan dalam ilmu tanpa faidah.
4. Kemalasan dan kebiasaan menunda belajar dan beramal.
5. Ilmu tanpa amal.
6. Banyak bicara tanpa ilmu.
7. Meremehkan orang lain dalam masalah ilmu.
8. Dosa dan maksiat.
9. Mengambil ilmu dari orang yang muda ilmunya.
10. Tidak amanah dengan ilmunya.

Demikian materi yang berkaitan dengan keutamaan menulis dalam Islam serta bagaimana semestinya seorang muslim beradab dalam mengambil ilmu yang akan menjadi bekal baginya menuju surga-Nya.

Alhamdulillah, selesai dengan nikmat-Nya.

Semarang, 15 Robiul Akhir 1441 H -12 Desember 2019
Al Faqir Ilaa afwi Robbihi
Abu Abdillah Nafis Muhammad khoirul Huda

Sumber Gambar : Educenter.id
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar