Teknik dan Trik Copywriting Covert Selling untuk Closing Penjualan Buku

TRENDING : CEK LINK VIDEO GISEL


Halo sobat Rizkiana.com semoga sehat selalu ya! Kali ini saya akan share teknik dan trik copywriting coverts selling untuk closing penjualan buku yang mungkin bisa kita pakai saat melakukan promo. Teman-teman mungkin sudah kenal dengan satu teknik copywriting yaitu Covert selling. Saya suka dengan teknik ini karena lebih terlihat elegan walau kita sebenarnya jualan.

Kalau terjun di dunia bisnis online, berarti kita perlu paham bahwa hampir 99% komunikasi kita adalah komunikasi tulisan.

Dalam konteks penjualan, artinya, kalau ingin penjualannya bagus, perbaiki dulu komunikasi tulisan kita. Kenapa? Karena di online, iklan pasti pakai tulisan. Semakin baik cara menulisnya, semakin besar potensi terjadinya closing penjualan.

Baca Juga : Trik Rahasia Cara Menjual Buku Online Hasil Karya Sendiri

Sebenarnya saat kita menulis iklan yang baik, itu sama seperti kita mengulang pelajaran bahasa Indonesia saat SD. Kita wajib gunakan tanda baca yang benar, huruf besar, huruf kecil.

Penulis udah paham bangetlah ini ya.

Teman-teman dalam covert selling kita promo tapi market nggak kesel bacanya. Mereka nyaman aja baca iklan kita. Nah di sini lah kita harus pintar mengolah tulisan dengan baik.

Kunci dalam covert selling sangat mudah, jangan menuliskan kalimat penawaran apalagi pemaksaan.

“Buku saya sudah launching, ayo gaes dibeli mumpung harga PO!”

Contoh di atas sebenarnya nggak salah untuk promo, tapi tidak cukup elegan apalagi kita seorang penulis.

“Buku ini saya buat karena terinspirasi dari seorang anak kecil yang dipukuli ibunya saat belajar online. Saya berharap buku ini bisa menginspirasi untuk kita semua.”

Sebenarnya itu pun promo, tapi nggak terlihat lagi promo ya.

Banyak orang nggak suka diiklani, buktinya kalau nonton youtube atau tv aja iklan di-skip. Tapi kita tau banyak orang suka belanja. Dari sanalah covert selling muncul, supaya kita bisa promo tapi dinikmati oleh banyak orang.

Dalam Covert Selling ada 6 tahapan seseorang sampai fix membeli atau tertarik dengan apa yang kita informasikan.

Ingat bagaimana anda bertemu dengan jodoh Anda?

Bertemu pendamping hidup?

Nah, begitulah penjualan ^^

 (Jomblo no baper) ✌

Pada dasarnya, penjualan itu mirip dengan orang yang mencari jodoh sebagai pendamping hidup.Saat mencari jodoh, nyaris tak ada yang melakukannya secara tiba-tiba. Tak ada yang bertemu orang di pinggir jalan, lalu mengajaknya menikah kan!

Nah untuk itulah tadi di atas saya sangat rekomendasi kita untuk membuat dulu awareness jauh-jauh hari.

Orang-orang tak pernah tiba-tiba melakukan transaksi ketika ingin membeli sesuatu. Bahkan untuk membeli gorengan di pinggir jalan. Pasti ada proses berpikir dan merasakan perasaan tertentu, hingga akhirnya memutuskan untuk membeli.Nyaris tak ada orang yang bertemu sebuah produk yang di iklankan, lalu langsung membelinya.

Baca Juga : Panduan Lengkap Cara Mengatasi Salah Nulis untuk Penulis Pemula

Di tahun 1961, 2 orang marketing bernama ROBERT J LAVIDGE dan GARY A STEINER, menciptakan sebuah model penjualan.  Mereka sebut dengan THE HIERACHY OF EFFECT MODEL.

Menurut mereka ada 3 fase yang akan dilewati banyak orang, ketika akhirnya memutuskan membeli sesuatu. Begini ceritanya.



Ckckck mulai roaming ya?

Kemungkinan besar, di sini belum akan membeli. Calon customer akan mencari tahu lebih jauh tentang produk yang baru dilihatnya itu. Ia akan mencoba masuk ke langkah mengerti (Knowledge)

Jika novel itu dilihatnya secara online, maka akan bertanya pada penjualnya,

"Novelnya tentang apa mba?"

"Happy ending gak?" 

dan sebagainya. 

Maka saat itu dia sudah kelangkah knowledge.

Kedua langkah diatas, awareness dan knowledge, secara otomatis akan mempengaruhi fase selanjutnya. Yaitu fase feel.

Di fase feel seseorang akan mulai bermain-main dengan perasaannya, setelah nyadar ada produk yang bagus & ngerti keunggulan produk tersebut. Maka saat itu juga muncul perasaan tertentu.

Calon customer mulai senang (liking) dengan produk yang ditawarkan kepadanya. Semakin lama, perasaan senangnya punya potensi untuk semakin meningkat sampai levelnya naik. Calon customer semakin naksir (preference) produk yang diiklankan penjual.

Setelah edukasi terus menerus, sampailah pada fase DO. Di fase ini, customer sudah sangat yakin (conviction) bahwa produk itu wajib dibeli. Dia sangat yakin bahwa dia benar-benar sangat membutuhkannya. Hingga akhirnya calon customer memutuskan untuk membeli (purchase) produk tersebut.

Apa yang perlu dilakukan seorang penjual terkait bahasan 6 steps selling effect ini?

Menurut saya sebagai penjual kita hanya perlu fokus pada fase Think saja..

Tanya kenapa?

Karena apapun yang dipikirkan oleh seseorang, maka itulah yg dirasakannya. What you think is what you fell, sehingga kita hanya perlu bermain-main dengan pikirannya. Maka secara otomatis perasaannya akan mengikuti.

Jadi apa yang perlu kita lakukan sebagai penjual adalah :

1. Mengiklankan produk kita dengan iklan yang memunculkan awareness dari calon customer, terutama untuk calon customer yang belom pernah mengetahui keberadaan kita.

2. Mengiklankan produk dengan iklan yang mengedukasi calon customer terkait produk kita dengan cara apapun yang bisa membuat calon customer memahami seluk beluk produk kita.

Setelah itu banyak-banyak lah berdoa dan tawakal pada yang maha Kuasa.

By: Deudeu Lestari

Pasang Iklan di Website Rizkiana.com Hubungi : kpopsquadmedia@gmail.com